MANUSIA DAN KEADILAN
A. Pengertian Keadilan
Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia,
dimana kelayakan diartikan sebagai titik tenngah diantara ke dua ujung ekstrem
yang terlalu banyak dan terlalu sedikit.Keadilan pleh Plato diproyeksikan pada
diri manusia sheingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri,
dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
Socrates yang memproyeksikan keadilan pada pemerintah. Dia mengatakan
keadilan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pihak pemerintah
sudah melaksanakan tugasnya dengan baik.Kong Hu Cu berpendapat, keadilan
terjadi apabila anak sebagai anak, ayah sebagai ayah, raja sebagai raja,
masaing-masing telah melaksanakan kewajibannya.
Secara umum, dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan perlakuan
yang seimbang antara hak dan kewajiban. Keadilan adalah keadaan bila setiap
orang memperoleh apa yang menjadi haknya dan mempero;eh bagian yang sama dari
kekayaan bersama.
B. Keadilan Sosial
Berbicara tentang keadilann, hal itu terdapat pada dasar Negara kita yaitu
Pancasila yang sila kelima yang berbunyi : “keadilan social bagi seluruh
rakyat Indonesia.”Bung Hatta dalam uraiannya mengenai sila “keadilan social
bagi seluruh rakyat Indonesia” menulis sebagaiberikut “keadilan social
adalah langkah yang menentukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan
makmur.”
Panitia ad-hoc majelis permusyawaratan rakyat sementara 1966 memberikan
rumusan sebagai berikut : “Sila keadilan social mengandung prinsip bahwa
setiap orang di Indonesia akan mendapat perlakuan yang adil dalam bidang hokum,
politik, ekonomi, dan kebudayaan.”
Dalam ketetapan MPR RI No.II/MPR/1978 tentang pedoman penghayatan dan
pengamalan Pancasila dicantumkan ketentuan sebagai berikut : “Dengan sila
keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia manusia Indonesia menyadari hak
dan kewajiban yang sama untuk menciptakan keadilan social dalam kehidupan
masyarakat Indonesia.”
Selanjutnya untuk mewujudkan keadilan social itu, diperinci perbuatan dan
sikap yang perlu dipupuk, yakni :
1. Perbuatan luhur yang
mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan
2. Sikap adil terhadap
sesame, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban serta menghormati hak-hak
orang lain
3. Sikap suka memberi
pertolongan kepada orang yang memerlukan
4. Sikap suka bekerja
keras
5. Sikap menghargai hasil
karya orang lain yang bermanfaat untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan
bersama
Asas yang menuju terciptanya keadilan social itu akan dituangkan dalam
berbagai langkah dan kegiatan, antara lain melalui 8 jalur pemerataan, yaitu :
1) pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan,
sandang, dan perumahan. 2) pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan
kesehatan. 3) pemerataan pembagian pendapatan. 4) pemerataan kesempatan kerja.
5) pemerataan kesempatan berusaha. 6) pemerataan kesempatan berpartisipasi
dalam pembangunan khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita. 7) pemerataan
penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. 8) pemerataan kesempatan
memperoleh keadilan.
C. Berbagai Macam Keadilan
a) Keadilan Legal atau
Keadilan Moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hokum mmerupakan substansi rohani umum
dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat
yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling
cocok baginya(The man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan
moral, sedangkan Sunoto menyebutknya keadilan legal.
Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang
melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebabhal itu akan menciptakan pertentangan
dan ketidakserasian.
b) Keadilan Distributif
Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal
yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak
sama (justice is done when equals are treated equally).
c) Keadilan Komutatif
Keadilan ini bertujuan memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan
umum. Bagi Aristoteles pengertiann keadilan itu merupakan asas pertalian dan
ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrim menjadikan
ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam
masyarakat.
D. Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan
hati nuraninya apa yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan yang benar-benar
ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang
dilarang oleh agama dan hokum.
Sikap jujur perlu dipelajari oleh setiap orang, sebab kejujuran mewujudkan
keadilan, sedang keadilan menuntut kemuliaan abadii, jujur memberikan keberanian
dan ketentaraman hati, serta menyucikan lagi pula membuat luhurnya budi
pekerti.
E. Kecurangan
Curang identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan
licik, meskipun tidak serupa. Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan
tidak sesuai dengan hati nurani.
Kecurangan menyebabkan manusian menjadi serakah, tamak, ingin menimbun
kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang paling
hebat, paling kaya, dan senang bila masyarakat di sekelilingnya hidup
menderita. Orang seperti itu biasanya tidak senang bila ada yang melebihi
kekayaannya. Padahal agama apa pun tidak membenarkan orang yang mengumpulkan
harta sebanyak-banyaknya tanpa menghiraukan orang lain, lebih pula mengumpulkan
harta dengan cara yang curang. Hal semacam itu salam istilah agama tidak
diridhoi Tuhan.
F. Pemulihan Nama Baik
Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang
tidak tercela. Ada peribahasa “daripada berputih mata lebih baik berputih
tulang” artinnya orang lebih baik mati daripada malu. Betapa besar nilai nama
baik itu sehingga nyawa menjadi taruhannya.
Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingakh laku atau perbuatan.
Atau boleh dikatakan nama baik atau tidak baik itu adalah dari tingkah laku dan
perbuatannya. Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada
hakekatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :
a) Manusia menurut sifat
dasarnya adalah makhluk moral
b) Ada aturan-aturan yang
berdiri sendiri yang harus dipatuhi manusia untuk mewujudkan dirinya sendiri
sebagai pelaku moral tersebut.
Pada hakekatnya pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala
kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau
tidak sesuai dengan ahlak yang baik. Untuk memulihkan nama baik manusia harus
tobat atau minta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan
harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat darma dengan memberikan
kebajikan dan pertolongan kepaa sesama hidup yang perlu ditolong dengan penuh
kasih sayang , tanpa pamrin, takwa terhadap Tuhan dan mempunyai sikap rela,
tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipupuk.
G. Pembalasan
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa
perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa,
tingkah laku yang seimbang.
Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang
bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya pergaulan yagn penuh kecurigaan
menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula.Pada dasarnya, manusia adalah
mahluk moral dan mahluk sosial. Dalam bergaul manusia harus mematuhi
norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral,
lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah
perbuatan yang melanggar atau memperkosa hak dan kewajiban manusia. Oleh karena
itu manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa,
maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan
hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.
MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP
A.
Pengertian Pandangan Hidup
Pandangan hidup adalah pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan,
pedoman, arahan, petunjuk hidup didunia. Sedangkan pendapat atau pertimbangan
itu sendiri merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah
menurut waktu dan tempat hidupnya. Pandangan hidup dapat diklasifikasikan
berdasarkan asalnya yang terdiri dari 3 macam, yaitu :
a) Pandangan hidup yang
berasal dari agama, yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
b) Pandangan hidup yang
berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada
negara tersebut.
c) Pandangan hidup hasil
renungan, yaitu pandangan hidup yang relative kebenarannya.
Pandangan hidup pada dasarnya mempunyai unsur-unsur yaitu :
“ Cita-cita, kebajikan, usaha, dan
keyakinan/kepercayaan. Keempat unsur ini merupakan satu rangkaian kesatuan yang
tak terpisahkan.“
B. Cita-Cita
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah
keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan
harapan, maupun tujuan merupakan apa yang mau diperoleh seseorang pada masa
mendatang. Pada umumnya cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin
lama makin tinggi, dengan perkataan lain: cita-cita merupakan keinginan,
harapan, dan tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya. Apabila cita-cita
itu tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi maka cita-cita itu disebut
angan-angan.
Dapatkah seseorang mencapai apa yang dicita-citakan. hal itu bergantung
pada beberapa hal :
1) Faktor manusia : yang
mau mencapai cita-cita ditentukan oleh kualitas manusianya. Ada yang tidak
berkemauan, sehingga apa yang dicita-citakan hanya merupakan khayalan saja.
2) Faktor kondisi : yang
mempengaruhi tercapainya cita-cita, dapat disebut sebagai yang menguntungkan
merupakan kondisi yang memperlancar tercapainya suatu cita-cita sedangkan
yang menghambat merupakan kondisi yang merintangi suatu cita-cita.
3) Faktor tingginya
cita-cita
C. Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatnangkan kebaikan pada
hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan
norma-norma agama dan etika.
Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan dan
badan dan kedua unsur itu akan terpisah bila meninggal. Manusia merupakan
makhluk sosial,manusia hidup bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling
tolong menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat, dan dapat pula
sebaliknya saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan, dan
sebagainya. Manusia sebagai makhluk
Tuhan, diciptakan Tuhan dan dapat berkembang karena Tuhan. Untuk itu manusia
dilengkapi kemampuan jasmani dan rohani juga fasilitas alam sekitarnya.
Untuk melihat kebajikan, kita harus melihat dari 3 segi yaitu :
1. Manusia sebagai
makhluk pribadi
Manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Baik
buruk itu ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam bisikan didalam
hati yang mendesak seseorang untuk menimbang-nimbang serta menentukan baik
buruknya suatu perbuatan, tindakan, tingkah laku, ataupun tingkah laku. Suara
hati dapat merupakan hakim untuk diri sendiri. Oleh sebab itu, nilai suara hati
amat besar dan penting dalam hidup manusia.
2. Manusia sebagai
anggota masyarakat
Setiap masyarakat adalah kumpulan pribadi-pribadi,sehingga setiap suara
masyarakat pada hakekatnya adalah kumpulan suara hati pribadi-pribadi dalam
masyarakat itu. Sebagaimana suara hati tiap pribadi itu pasti selalu
menginginkan yang baik, maka masyarakat yang terdiri atas pribadi-pribadi itu
pasti suara hatinya juga menginginkan yang baik untuk kehidupan masyarakatnya.
Sebab itu benar-benar berdasarkan pada suara hati angota-anggotanya, suara hati
masyarakat pada dasarnya adalah baik.
Sesuatu yang baik bagi masyarakat, berarti baik pula untuk kepentingan
masyarakat. Tetapi dapat saja terjadi, bahwa sesuatu yang baik bagi kepentingan
umum/masyarakat tidak baik bagi salh seorang atau segelintir orang didalamnya
atau sebalikya.
3. Manusia sebagai
makhluk Tuhan
Manusia pun harus mendengarkan suara hati Tuhan. Suara Tuhan selalu
membisikkan agar manusia berbuat baik dan mengelakkan perbuatan yang tidak
baik. Untuk mengukur perbuatan baik buruk,harus kita dengar pula suara Tuhan
atau kehendak Tuhan, kehendak Tuhhan dapat berbentuk hukum Tuhan atau hukum
agama.
Kebajikan manusia nyata dan dapat dirasakan dalam tingkah lakunya. Karena
tingkah laku bersumber pada pandangan hidup,maka setiap orang memiliki tingkah
laku sendiri-sendiri sehingga tingkah laku setiap orang berbeda.
Faktor-faktor yang menentukan tingkah laku setiap orang ada 3 hal yaitu :
·
Faktor bawaan/hereditas : yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih
dalam kandungan. Pembawaan merupakan yang diturunkan atau dipusakai oleh orang
tua.
·
Faktor lingkungan: lingkungan yang membentuk jiwa seseorang meliputi
lingkungan keluarga, sekolah,masyarakat.
·
Faktor pengalaman : pengalaman pahit yg sifat negatif maupun pengalaman
manis yang bersifat positif ,memberikan pada manusia suatu bekal yang selalu
dipergunakan sebagai pertimbangan sebelum seseorang mengambil tindakan.
D. Usaha / Perjuangan
Usaha atau perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Setiap
manusia harus kerja keras untuk kelanjutan hidupnya. Kerja keras itu dapat
dilakukan dengan otak/ilmu maupun dengan tenaga/jasmani, atau dengan kedua-duanya.
Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat
manusia. Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan
terbatas itulah perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dan manusia
lainnya. Karena manusia itu mempunyai rasa kebersamaan dan belas kasihan
(cinnta kasih) antara sesama manusia, maka ketidakmampuan atau kemampuan
terbatas yang menimbulkan perbedaan tingkat kemakmuran itu dapat diatasi
bersama-sama secara tolong menolong, bergotong-royong.
E. Keyakinan / Kepercayaan
Keyakinan/ kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal
atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof.Dr.Harun Nasution , ada 3 aliran filsafat,
yaitu :
1. Aliran Naturalisme
Hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan
tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natur , dan itu dari Tuhan. Tetapi bagi yang
tidak percaya pada Tuhan, natur itulah yang tertinggi.
Aliran naturalisme berintikan spekulasi, mungkin ada Tuhan mungkin juga
tidak ada Tuhan. Lalu mana yang benar?yang benar adalah keyakinan. Jika kita
yakin Tuhan ada, maka kita katakan Tuhan ada. Bagi yang tidak yakin, dikatakan
Tuhan tidak ada yang ada hanya natur. Bagi yang percaya Tuhan,Tuhan itu adalah
kekuasaan tertinggi. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan. Karena itu manusia
mengabdi kepada Tuhan berdasarkan ajaran-ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran agama
itu ada dua macam yaitu :
a) Ajaran agam dogmatis,
yang disampaikan oleh Tuhan melalui nabi-nabi. Ajaran agama yang dogmatis
bersifat mulak (absolut), terdapat dalam kitab suci Al-Quran dan Hadist.
Sifatnya tetap, tidak berubah-ubah.
b) Ajaran agama dari
pemuka-pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia, sifatnya
relatif(terbatas). Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama termasuk kebudayaan,
terdapat dalam buku-buku agama yang ditulis oleh pemuka-pemuka agama. Sifatnya
dapat berubah-ubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Apabila aliran naturalisme ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka
keyakinan manusia itu bermula dari Tuhan. Jadi, pandangan hidup dilandasi oleh
ajaran-ajaran Tuhan melalui agamanya. Manusia yakin bahwa kebajikan itu
diridhoi oleh Tuhan. Pandangan hidup yang dilandasi keyakinan bahwa Tuhanlah
kekuasaan tertinggi, yang menentukan segala-galanya disebut pandangan hidup
religious (keagamaan).
2. Aliran Intelektualisme
Dasar aliran ini adalah logika/akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal
manusia berpikir, mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun yang
bertentangan dengan kekuatan hati nurani. Akal berasal dari bahasa Arab,
artinya kalbu, yang berpusat di hati, sehingga timbul istilah “hati nurani”
artinya daya rasa. Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup maka
keyakinan manusia itu bermula dari akal. Jadi pandangan hidup ini dilandasi
oleh keyakinan kebenaran yang diterima oleh akal. Manusia yakin bahwa kebajikan
hanya dapat diperoleh dengan akal (ilmu dan teknologi). Pandangan hidup ini
disebut liberalisme. Kebebasan akal akan lebih ditekankan pada setiap
individu karena itu individu yang berakal (berilmu dan berteknologi tinggi)
dapat menguasai individu yang berpikir rendah (bodoh).
3. Aliran Gabungan
Dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal,kekuatan gaib artinya
kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan.
Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu.
Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbul dua
kemungkinan pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarkan pada
logika berpiki, sedangkan hati nurani dinomor duakan, kekuatan gaib dari Tuhan
diakui adanya tetapi tidak menentukan,dan logika berpikir tidak
ditekankan pada logika berpikir individu, melainkan logika berpikir kolektif
(masyarakat), pandangan hidup ini disebut sosialisme. Apabila dasar keyakinan
itu kekuatan gaib dari Tuhan adalah akal, kedua-duanya mendasari keyakinan
secara berimbang, akal dalam arti baik sebagai logika berpikir maupun sebagai daya
rasa (hati nurani, logika berpikir baik secara individual maupun secara
kolektif pandangan ini disebut sosialisme-religius.
F. Langkah-Langkah Berpandangan Hidup yang
Baik
Manusia pasti mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Bagaimana
kita memperlakukan pandangan hidup itu tergantung pada orang yang bersangkutan.
Akan tetapi yang terpenting, kita seharusnya mempunyai langkah-langkah
berpandangan hidup ini. Adapun langkah-langkah itu sebagai berikut :
1) Mengenal
Mengenal merupakan suatu kodrat bagi manusia yaitu merupakan tahap pertama
dari setiap aktivitas hidupnya yang dalam hal ini mengenal apa itu pandangan
hidup
2) Mengerti
Tahap kedua untuk berpandangan hidup yang baik adalah mengerti. Mengerti
disini dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri.
3) Menghayati
Langkah selanjutnya setelah mengerti pandangan hidup adalah menghayati
pandangan hidup itu. Dengan menghayati pandangan hidup, kita memperoleh
gambaran yang tepat dan benar mengenai kebenaran pandangan hidup itu sendiri.
4) Meyakini
Setelah mengetahui kebenaran dan validitas, baik secara kemanusiaan, maupun
ditinjau dari segi kemasyarakatan maupun Negara dan dari kehidupan di akherat,
maka hendaknya kita meyakini pandangan hidup yang telah kita hayati itu.
5) Mengabdi
Pengabdian merupakan sesuatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini
sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya lebih-lebih oleh
orang lain.
6) Mengamankan
Mungkin sudah sifat manusia bahwa bila sudah mengabdikan diri pada suatu
pandangan hidup lalu ada orang lain yang mengganggu dan atau menyalahkan tentu
tidak terima dan bahkan cenderung untuk mengadakan perlawanan. Proses
mengamankan ini merupakan langkah terakhir dan merupakan langkah terberat dan
benar-benar membutuhkan iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi
segala sesuatu demi tegaknya pandangan hidup itu.
MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB
A. Pengertian Tanggung Jawab
Pengertian tanggung jawab dalam Kamus Umum Bahasa Besar Indonesia adalah
keadaan dimana wajib menanggung segala sesuatu, sehingga berkewajiban
menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya atau memberikan jawab
dan menanggung akibatnya. Adapun tanggung jawab secara definisi merupakan
kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan baik yang disengaja maupun
yang tidak di sengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan
kesadaran akan kewajiban.
Tanggung jawab bersifat kodrati, yang artinya tanggung jawab itu sudah
menjadi bagian kehidupan manusia bahwa setiap manusia dan yang pasti
masing-masing orang akan memikul suatu tanggung jawabnya sendiri-sendiri.
Apabila seseorang tidak mau bertanggung jawab, maka tentu ada pihak lain yang
memaksa untuk tindakan tanggung jawab tersebut. Dengan demikian tanggung jawab
itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:
1) Dari sisi yang berbuat
2) Dari sisi kepentingan
pihak lain
Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung
jawab karena ia menyadari akibat baik atau buruk perbuatannyaitu, dan menyadari
pula bahwa pihak lain memerlukan pengabdian atau pengorbanannya. Untuk
memperoleh atau meningkatkan kesadaran bertanggung jawab perlu ditempuh usaha
melalui pendidikan, penyuluhan, keteladanan dan takwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa.
B. Macam-Macam Tanggung Jawab
Manusia itu berjuang untuk memenuhi keperluannya sendiri atau untuk
keperluan pihak lain. Untuk itu ia menghadapi manusia lain dalam masyarakat
atau menghadapi lingkungan alam. Dalam usahanya itu manusia juga menyadari
bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan, yaitu kekuasaan Tuhan. Dengan
demikian tanggung jawab itu dapat dibedakan menurut keadaan manusia atau
hubungan yang dibuatnya, atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung
jawab, yaitu:
1. Tanggung jawab
terhadap diri sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri menentukan kesadaran setiap orang
untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai
manusia pribadi.
2. Tanggung jawab
terhadap keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami, isteri,
ayah, ibu anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap
anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarga. Tanggung jawab ini
menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan
kesejahteraan, keselamatan dan kehidupan.
3. Tanggung jawab
terhadap masyarakat
Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai
dengan kedudukannya sebagai mahluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain maka
ia harus berkomunikasi dengan manusia lain. Sehingga dengan demikian manusia
disini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab
seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam
masyrakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus
dipertanggung jawabkan kepada masyarakat.
4. Tanggung jawab kepada
Bangsa / Negara
Suatu kenyataan lagi, bahwa tiap manusia, tiap individu adalah warga negara
suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia tidak
dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan itu salah, maka ia harus
bertanggung jawab kepada Negara
5. Tanggung jawab
terhadap Tuhan
Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab,
melainkan untuk mengisa kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsung
terhadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukum-hukum
Tuhan yang telah diatur sedemikian rupa dalam berbagai kitab suci melalui
berbagai macam-macam agama.
C. Pengabdian dan Pengorbanan
Wujud tanggung jawab juga berupa pengabdian dan pengorbanan adalah perbuat
baik untuk kepentingan manusia itu sendiri
1. Pengabdian
Pengabdian itu adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun
tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat, atau satu
ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu hakekatnya adalah
rasa tanggung jawab, apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi
kebutuhan, hal itu berarti mengabdi kepada keluarga. Lain halnya jika kita
membantu teman dalam kesulitan, mungkin sampai berhari-hari itu bukan
pengabdian, tetapi hanya bantuan saja
2. Pengorbanan
Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan,
sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan
demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan
yang tidak mengandung pamrih suatu pemberian yang didasarkan atas kesadaran
moral yang tulus ikhlas semata-mata.Perbedaan antara pengertian pengabdian dan
pengorbanan tidak begitu jelas, karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan
.
Pengorbanan merupakan juga bagian dari pengabdian. Segala sesuatu yang
bersifat pengabdian, pasti terdapat tindakan pengorbanan, sekecil apapun itu.
Berbuat pengorbanan itu bermacam-macam, dapat berupa harta benda, pikiran,
perasaan, bahkan dapat juga berupa pengorbanan berbentuk jiwanya. Pengorbanan
diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada
transaksi, kapan saja diperlukan.Pengabdian lebih banyak mengarah kepada perbuatan sedangkan,
pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa
pikiran, perasaan, tenaga, biaya, waktu. Dalam pengabdian selalu dituntut
pengorbanan belum tentu menuntut pengabdian.
STUDI KASUS DARI BAB 9
Studi Kasus
Sepasang suami istri guru sekolah dasar di sebuah
desa anaknya cukup banyak yaitu enam orang. Untuk dapat memenuhi kebutuhan
keluarga besar tersebut, si ibu tetap berkerja sebagai guru, karena tahu bahwa
gaji suaminya juga kecil. Si ibu di rumah tidak melepaskan tanggung jawabnya
sebagai ibu rumah tangga, karena memang tidak mampu membayar pembantu. Untuk
urusan pendidikan di sekolah si bapak yang bertanggung jawab, sedangkan si ibu
untuk urusan pendidikan yang bersangkutan dengan rumah tangga, si bapak
membimbing putra putrinya dalam belajar di rumah malam hari, sedangkan siang
hari saling dengan praktek biologi seperti menanam sayor koma, memeihara ternak
yang hasilnya langsung dapat dinikmati oleh keluarga, si ibu membimbing putra
putrinya untuk mandiri, setelah anak-anaknya mulai harus sekolah di kota mereka
hanya di sewakan kamar yang murah dengan memasak dan mencuci sendiri.
Demikianlah maka kamar itu makin banyak
penghuninya oleh adik-adik yang juga menyusul kakak di kota. Seminggu sekali
seorang pulang untuk mengambil uang dan perbekalan di desa, dan
sekali sebulan ayah ibu datang ke kota untuk tetap mengakrabkan hubungan
sebagai keluarga dan mengontrol anak-anaknya menjalankan kewajibannya secara
benar. Hal demikian juga diakukan oleh keluarga itu waktu anak terbesar harus
masuk ke perguruan tinggi. Pada waktu si sulung sudah tamat dan berkerja, iya
pindah ke tempat kerjanya dan berfungsi sebagai donatur terhadap adik-adiknya.
Walhalsil seluruh putra putri keluarga guru
tersebut dapat menamatkan sekolahnya dan menjadi sarjana. Sementara itu si
bapak dan ibu bertahan berkerja sebagai guru di desa demi mengabdi pada putra
putrinya agar dapat menjadi manusia yang hidupnya tidak sesulit dirinya. Waktu
mereka sudah pensiun, mereka merasakan bahwa pengabdiannya pada putra putrinya
juga sudah cukup, mereka puas karna membekali putra putrinya dengan ilmu yang
dijadikan kail dalam menempuh kehidupan ini. Orang tua itu tidak membekali dengan
ikan, karena akan cepat abis tanpa bekas!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar